Tuesday, August 18, 2009

Mengapa Indonesia tidak mahu membawa Ambalat ke Pengadilan Internasional?

Mengapa Indonesia mendadak mengakui perairan yang bukan miliknya ini
sebagai bagian wilayah Indonesia??? Tidak lain karena perairan ini
mengandung minyak yang bisa disedot selama 30 tahun.

Namun yang namanya hukum tetap hukum, Malaysia tidak mau ter-buru2 karena
pihak Malaysia sangat tahu kalo wilayah itu milik mereka dan sampai kapanpun
pihak Indonesia pasti kalah kalau mau mendaulatnya.

Pengadilan Internasional mengenai batas negara tempohari memenangkan
Malaysia sebagai pemilik Sipadan-Ligitan sehingga otomatis perairan Ambalat
ini masuk wilayah Malaysia karena Ambalat itu terletak antara
Sipadan-Ligitan dan Sabah.

Berdasarkan hukum Internasional, Malaysia sudah sejak dulu membangun pulau2
sekitar perairan Ambalat ini, semua lurah hingga RT/RW-nya mendapat gaji
langsung dari pemerintahan Malaysia. Lalu bagaimana mungkin Indonesia bisa
memaksakan kedaulatannya sementara penduduk disana pun mengakui wilayah
mereka adalah wilayah Malaysia ????

Disinilah letaknya persoalan, ternyata Indonesia tidak mau persoalan
Ambalat ini dibawa kepengadilan Internasional, dan atas usul Indonesia
inilah Malaysia oke2 saja selama bisa diselesaikan secara damai.

Celakanya, Indonesia sudah menjual perairan ini kepada perusahan minyak
Italia, "ENI" untuk mengebor minyak minyaknya. Oleh karena itulah RI berdaya
upaya ber-pura2 marah sewaktu perusahan minyak ENI ini diusir oleh pasukan
Malaysia. Akibatnya ENI meneliti hukum dan UU yang berlaku dan memastikan
perairan Ambalat ini milik Malaysia sehingga perusahaan minyak ENI ini
meminta agar pemerintah RI mengembalikan uang yang sudah dibayarkannya itu.
Tetapi pemerintah RI ngotot tidak mau mengembalikannya dan membuat sandiwara
se-olah2 Malaysia merebut wilayahnya yang disebar luaskan disemua media
diseluruh Indonesia.

Jadi tujuannya menuntut perairan Ambalat itu sama sekali bukan karena mau
direbut Malaysia, melainkan memang wilayah Malaysia dan RI ber-pura2
se-olah2 wilayahnya direbut Malaysia agar tuntutan ENI bisa dibatalkan.

Kemungkinan besar uangnya itu sudah habis dimakan rame2 para pejabat2
negara RI ini sehingga tak mungkin dikembalikan lagi selain cuma bermain
sandiwara saja untuk mengulur waktu.